Efek Aquamarine di Android | Aplikasi Edit Foto & Kamera

Apa itu Efek Aquamarine ?

Effect Aquamarine adalah efek foto dimana hasilnya foto akan tampak keputih - putihan atau jika anda memotret foto putih maka akan terlihat seperti putih pucat. Efek ini biasanya kita temukan pada Kamera Digital SLR buatan cannon atau sejenis SLR lainnya.

dibawah ini adalah contoh foto dengan efek aquamarine


foto dengan efek aquamarine
Aquamarine Effect

Lalu bagaimana penggunaan efek ini untuk android ? Seperti banyak hal mengenai efek foto pada android kita bisa menggunakan beberapa aplikasi yang sudah didesain sedemikian rupa agar menghasil foto yang semirip mungin dengan efek yang kita maksud. Android memang menyediakan beragam aplikasi yang mudah kita gunakan ebagai editing foto termasuk menghadirkan efek aqua marine ini.
baca juga efek kamera lainnya yaitu efek lensa cembung atau yang bias kita kenal dengan instilah FishEye Lens -> Download Insta FishEye Android

download efek aquamarine for android

Saat kami mencoba mencarinya lewat google play store, kami tidak menemukan satu pun aplikasi yang secara khusus menyajikan efek aqua marine untuk android. Hanya saja efek tersebut bisa dengan mudah kita temui pada filter untuk aplikasi edit foto android atau pada aplikasi kamera dengan mengubah kecerahan dan nada warna.

Salah satu aplikasi yang bisa kita gunakan adalah xiu xiu meitu Android, aplikasi ini tersedia fitur untuk memberikan efek Aquamarine dengan nama retouch
Download Xiu Xiu Meitu

Cara Membuat Related Post di Bawah Postingan

Cara Membuat Related Post di Bawah Postingan.


Cara Membuat Related Post di Bawah Postingan
Seperti inilah hasilnya (mirip)
Tidak perlu berlama-lama lagi, langsung saja simak di bawah ini. (Sekali lagi saya sebutkan, apabila template blog anda sudah menyajikan Related Post, abaikan saja ini). Sekedar berbagi saja untuk kawan-kawan.

Cara Membuat Related Post di Bawah Postingan
1. Bukalah akun blogger anda dengan tenang dan damai sejahtera.
2. Pilihlah Elemen Template. Lalu Pilit Edit HTML, jangan lupa centang Expand Template Widget <<<== cara edit html lawas.... lewati langkah ini / langsung lakukan langkah no 3 yah... (update)
3. Carilah kode </head> (Gunakan Ctrl+F untuk mempermudah pencarian), setelah anda menemukannya, letakkanlah kode javascript di bawah ini (Copy) persis di atas kode </head> tadi (Pastekan)

<style> #related-posts { float : left; width : 540px; margin-top:20px; margin-left : 5px; margin-bottom:20px; font : 11px Verdana; margin-bottom:10px; } #related-posts .widget { list-style-type : none; margin : 5px 0 5px 0; padding : 0; } #related-posts .widget h2, #related-posts h2 { font-size : 20px; font-weight : normal; margin : 5px 7px 0; padding : 0 0 5px; } #related-posts a { text-decoration : none; } #related-posts a:hover { text-decoration : none; } #related-posts ul { border : medium none; margin : 10px; padding : 0; } #related-posts ul li { display : block; background : url("https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCF1tE-gOYaiqfD8ExBlbbfHIBB08qP12S2QzICM1TO7hrVZoDNMaEU68GVW9Q-mWxghWuTtNXb_pWvLbsntffs8kIAVQLwAqlRUGpoCRuca6YbAI5CAqbPVFynwtaDcBkKeqe1NxQJHw/") no-repeat 0 0; margin : 0; padding-top : 0; padding-right : 0; padding-bottom : 1px; padding-left : 21px; margin-bottom : 5px; line-height : 2em; border-bottom:1px dotted #cccccc; } </style> <script src='/11631137121/related_post_pelajaran_blog.js' type='text/javascript'/>

4. Aplagi cara no 3 diatas sudah anda lakukan, selanjutnya cari lagi kode berikut : <data:post.body/>, Sudah ketemu belum kode itu, kalau sudah ketemu, letakkan lagi kode di bawah ini (copy) tepat di bawah kode <data:post.body/> (pastekan)

<br/><br/><b:if cond='data:blog.pageType == "item"'>
<div id="related-posts">
<font face='Arial' size='3'><b>Related Posts : </b></font><font color='#FFFFFF'><b:loop values='data:post.labels' var='label'><data:label.name/><b:if cond='data:label.isLast != &quot;true&quot;'>,</b:if><b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'>
<script expr:src='&quot;/feeds/posts/default/-/&quot; + data:label.name + &quot;?alt=json-in-script&amp;callback=related_results_labels&amp;max-results=5&quot;' type='text/javascript'/></b:if></b:loop> </font>
<script type='text/javascript'> removeRelatedDuplicates(); printRelatedLabels();
</script>
</div></b:if>

5. Setelah selesai, lalu simpan template blog anda.
6. Lihat hasilnya seperti apa.

Catatan :
Kode <data:post.body/> mungkin anda akan temukan banyak, pilih saja satu, tidak apa-apa kok anda coba-coba yang penting anda paham.

Ok, demikian tutorial mengenai Cara Membuat Related Post di Bawah Postingan kali ini. Selamat mencoba. Salam Sukses.

Review Film "Crows Zero" Bagian 2 (DUA)

 

 

Lagi-lagi, aku ingin mengatakan kalau diriku bukanlah siapa-siapa, bukan orang yang pantas untuk dipandang lewat layar kaca, bukan orang yang pintar dalam segala hal. Tapi aku hanyalah orang biasa, yang memang rada gemar menonton film, terutama film luar, dan kebanyakan inspirasi menulisku adalah dari film, bukan buku. Jadi, kalau disuruh mereview sebuah film, aku bakal mengulasnya dengan seteliti mungkin, seperti saat sedang membaca sebuah novel (hanya saja ini berbentuk gambar bergerak).

Dan, sewaktu menulis ini, sebetulnya aku juga takut sekali, karena jika ternyata aku salah kata, atau terlalu gimana gitu, nanti orang-orang akan bereaksi  kalau aku orangnya sangat sombong atau gimana. Tidak, tidak. Aku menulis ini berdasarkan kenyataan, dan kini, aku mencoba untuk melampiaskannya dalam sebuah tulisan. Siapa tahu tulisan ini berguna, siapa tahu orang-orang tidak menganggap aku sok pintar.

Dengar, aku masih seperti yang dulu. Tapi karena ada suatu kejanggalan yang menurut aku harus diluruskan, apalagi ini menyangkut film yang kelihatannya best seller di Negara Jepang sana, atau mungkin sudah tingkat dunia, aku harus turut turun tangan (jiach, kata-katanya. :D). Lalu, buat fans-fans novelku, jangan pada lari yak, ini semua cuma ungkapan hati.... :-*

Dannnn..... seperti inilah hasilnya:


REVIEW FILM “CROWS ZERO” II

Hmm, setelah kemaren mencoba mereview film Crows Zero bagian I, sekarang saatnya mereview seri keduanya, yaitu Crows Zero bagian II. Beruntung aku punya film-nya (tapi jangan ditanya dapet darimananya. :D)

Oke, setelah kemaren menghabiskan beberapa jam penuh untuk melihat filmnya, yang terbagi atas dua keping film, aku berani mengambil pendapat seperti ini. Yeah, kira-kira seperti yang akan kutulis di sini. Tapi, kau tentu pasti tahu, kalau di film bagian I saja aku sudah banyak sekali mengutarakan kritikan, nggak tahu deh nanti bagaimana penilaian berikutnya.

Dan pada saat menonton bagian kedua ini, aku betul-betul berharap, kalau segala kejanggalan yang terjadi di film bagian pertamanya bisa terjawab di film bagian keduanya.

Apakah kejanggalan yang kemaren aku utarakan akan terjawab?

Yuk, kita bongkar film Crows Zero bagian kedua ini!

Opening film, dibuat agak santai namun dengan sisi pengambilan gambar yang bagus. Berupa air kolam di sekolahan—yang kerap mereka pakai untuk latihan—dan ada potongan-potongan kayu yang bertuliskan huruf kanji. Hal ini langsung mengukuhkan bahwa film ini berasal dari jepang—penggambaran yang bagus, nilai 100 bagi Sutradaranya. Ditambah dengan kokok suara gagak, waw, kayak berasa di hutan gitu. Terasa asing dan sepi—dan aku tak bisa mengkritiknya, karena siapa tahu di jepang itu memang banyak sekali burung-burung gagak yang terbang bebas berkeliaran dimana saja.

Kemudian, opening film dilanjutkan dengan perkelahian antara Genji dengan Rindaman. Mulai dari adegan inilah keningku mulai berkerut, karena pas terakhir kali aku menonton film bagian I-nya, terakhir kali posisi mereka bertarung bukan seperti itu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mencoba memutar kembali film bagian I-nya, ternyata memang benar, posisi bertarung mereka berbeda dari semula—dengan adanya pria botak yang kujuluki Si Muka Mesum dan si asisten lain yang ceking dan tampak konyol yang menurutku memang kurang pantas sebagai salah satu pemimpin genk, bila dilihat dari acting dia dan tingkah laku dia (tentunya dalam film). Apakah film part kedua ini bukan kelanjutan dari part pertamanya?—aku berpikir demikian.

Tapi setelah itu keherananku ini terjawab, dengan ditampilkannya anak-anak Serizawa, yang melihat Genji kalah bertarung melawan Rindaman, dan ada salah satu dari mereka berkata; “Brengsek! Genji kalah lagi!”

Kata “Lagi”, berarti mengukuhkan bahwa pertarungan itu adalah pertarungan yang kedua, atau kesekian kali, pokoknya bukan yang pertama. Jadi, epilog di film seri pertamanya itu memang sengaja dipotong oleh si sutradaranya, untuk menambah kesan “penasaran” bagi penontonnya, dan menunjukkan bahwa film itu masih akan berlanjut. Good job, bagi sutradaranya. :)

Terus, masuk ke adegan berikutnya.

Film mulai dimasuki dengan berbagai masalah, yaitu dengan keluarnya salah satu murid dari penjara, yang di masa silam (tepatnya 2 tahun yang lalu—wah murah bener ya harga dari nyawa di Jepang sana? Kalau cuma dihukum 2 tahun pasti di Indonesia banyak sekali pertumpahan darah, haha), telah berhasil membunuh salah satu pimpinan genk Housen, yang bernama; Bitou Makio. Mulai saat inilah film menjadi seru. Ada kejar-kejaran, konflik, dan peperangan yang akan meletus kembali antara kedua belah pihak (sekolah Housen dan Suzuran), yang mana, sudah sedari dulu mereka mempunyai janji tidak akan berperang lagi, dan janji itu mereka pegang teguh.

Tapi, karena kesombongan si Genji (tampaknya dia memang dijadikan tokoh yang bersifat sombong di film itu), akhirnya perjanjian itu terlepas sudah, dan pada akhirnya dia harus bersiap-siap bertarung melawan sekolah Housen.

Sampai segini, film terasa seru. Aku membayangkan, pasti rute jalan ceritanya akan penuh intrik dan polemik.
Beberapa menit berlalu. Film terasa agak tenang sekarang, saat film diselingi penyanyi yang sama dari film bagian I-nya. Nyanyian berbahasa Jepang, waw, sungguh terasa khas Jepang sekali. (Aku suka lagu dan aransementnya—pemilihan sountrack yang bagus, 100 bagi tim-nya).

Dan, saat sedang slowly down-slowly downnya, tiba-tiba saja ada sebuah part yang ditampilkan, yaitu Ken yang ditembak bosnya sehingga kecemplung di suatu kolam. Hal ini membuat mataku langsung mengejang, “Kok part bagian ini ditampilkan lagi?” :O

Nggak percaya saja, kalau dalam suatu film, ada potongan part yang ditampilkan hingga TIGA KALI. Apa itu nggak membuat penonton bosan? (bagi penggemar film ini, pasti enggak. Tapi bagi aku, itu sangat membosankan, walau hanya sekilas. Sama saja menulis novel, tak ada part yang boleh diulang sampai tiga kali—itu pasti sangat membosankan!). Walau pada akhirnya, ternyata part itu “hanya” untuk menerangkan tentang kejadian Ken yang mati pada Kawaishi Noboru. Tapi, apakah tidak ada cara lain lagi untuk menerangkan hal itu? Oh, iya, ini film bagian ke2-nya ya. Jadi mungkin saja si sutradara mengira kalau dengan menampilkan part itu walau sebentar saja tidak akan membuat penonton bosan. (Gleg—nelen ludah)

Pemain yang paling membuat jidat mengkerut adalah si Ryo. Pria ceking, berkulit putih, dan berambut panjang. Dari awal kemunculannya, aku kira dia adalah seorang cewek, yang saat itu membawa payung. Tapi ternyata dia adalah seorang laki-laki—hal ini mengundang rasa penasaran, bagaimana sih kekuatan dia nantinya?

Sampai di tengah film, muncul si Ken lagi, yang berada di sebuah pelabuhan—mungkin—yang didatangi oleh Kawaishi Noboru. Mulai saat ini berbagai spekulasi terjadi, kayaknya cerita semakin melebar—sangat-sangat lebar—dan aku nggak tahu bagaimana si sutradara itu akan merampungkan segala permasalahan dalam film itu.

Lanjut dan terus lanjut, ada keanehan yang lepas dari pengawasan si sutradara, yaitu saat si Kawaishi Noboru menembak bos dari si Ken. Ken, yang saat itu sedang berada di pekerjaannya, mendengarkan sebuah radio, yang menyiarkan berita penembakan itu. Tapi anehnya, si penyiar radio berkata seperti ini: “Berita terbaru. Hideo Takiya, bos dari Ryuseikai, ditembak oleh tersangka yang belum diketahui.”

Untuk kalimat ini menurutku agak ganjil, karena jika Ryuseikai itu adalah nama “genk” nya, kok bisa-bisanya disiarkan di radio? Padahal, jelas kalau informasi seperti itu, jika keberaan suatu genk sudah diketahui oleh publik, bukankah akan memudahkan polisi untuk menangkapnya—bila ada suatu keributan? Ataukah hanya ini cara satu-satunya yang digunakan si sutradara untuk memberitahu posisi Kawaishi yang baru saja menembak bos-nya? (nggak lucu menurutku)
Tapi entahlah denk, aku nggak tahu apa arti dari Ryuseikai itu. Entah itu nama genknya, entah nama restoran atau makanan, aku nggak tahu. Karena, jujur, aku agak lemot dalam menghafal sebuah nama (gubrakk!) :S

Bukan hanya satu kalimat itu saja yang membuatku merasa janggal.

Sebelum itu, ada juga perkataan dari ayah Genji, yang menurutku kurang cocok bila diucapkan dalam situasi seperti itu (saat dia menemui Genji di sebuah bar bawah tanah saat ingin mengajak Genji berkelahi).

Ayah Genji berkata, “Kau memang pantas jadi anak bos Ryuseikai. Sudah main perempuan biarpun masih bocah.”
Loh, kok, dia bisa berbicara demikian? Padahal, dari jalan ceritanya, si Genji aja cuma duduk-duduk di bar dan didatangi seorang cewek—itu pun dia selalu cuekin. Kok bisa-bisanya dia berkata seperti itu?

Seharusnya, kalau ada part yang mengucapkan kalimat seperti itu, si ayah Genji seharusnya sudah melihat batasan yang lebih daripada hanya sekedar duduk dengan cewek tanpa ada sentuhan tangan sedikitpun! Seharusnya si ayah Genji melihatnya berciuman dengan cewek itu, atau nyaris saja berbuat mesum—setidaknya. Dan, setelah itu, barulah dia pantas mengucapkan kalimat itu; “Sudah main perempuan biarpun masih bocah.”

Helllloowwww, Pak Sutradara. Dimanakah dirimu? Si Genji ini sudah besar loh. Masak cuma berani  duduk dan tanpa menyentuh seorang cewek—apalagi dia adalah ketua “genk”? Mana kamu kasih part kalimat seperti itu lagi sama ayahnya. Jangan-jangan kamu nggak menonton ulang film-mu setelah jadi yak? :D

Film-film indonesia saja kalau sudah SMA, bisa berbuat yang lebih jauh dari itu. Atau apakah ini karena ekosistem kependudukan di sana adalah seperti itu? Aku juga nggak tahu karena aku belum pernah kesana! (bleb!—kelelep)
Selepas menghabiskan ¾ film, aku masih juga penasaran, bagaimana caranya si sutradara nanti akan mengakhiri segala masalah itu yak? Karena menurutku cerita memang berkembang semakin lebar dan tak terkendali.

Genk Suzuran dan Nobou yang ingin bertarung, dan Ken yang menembak ayah dari Genji. Dan ternyata, memang sampai film selesai, segala permasalahan itu tidak terselesaikan juga, dan malah selesai dengan cara terpisah-pisah.

Semula aku mengharapkan si Ken, tetap berurusan dengan genk-genk itu. Karena memang dia adalah pemicu perkelahian itu. Tapi ternyata dia malah berakhir dengan cerita sendiri, penembakan yang tak diduga-duga, dan lari bersama Ken naik mobil pick up. Sementara dua genk itu bertarung mati-matian di sekolahan Nobou. (ending cerita yang lumayan buruk untuk sebuah film menurutku)

Lalu kita beralih ke part saat kedua genk berkelahi.

Di sana, semula si Genji berangkat sendiri karena teman-temannya tidak mau membantu (Terutama si pria tampan berambut agak panjang dan runcing-runcing dari kelas lain, yang kelihatannya diketuai oleh Rindaman, yang di film bagian I-nya, dia yang pertama kali membuat kekacauan, tapi malah tidak terlalu dikaitkan dengan jalan ceritanya). Sebelum itu, Genji sudah berusaha memohon mereka untuk meminjam kekuatan mereka, untuk membantu dia bertempur melawan sekolah Nobou—dengan melalui microphone sekolah. Tapi ternyata mereka tidak mau membantu, dan akhirnya, setelah Genji berangkat sendiri karena—kayaknya—putus asa, mereka semua tiba-tiba pada berdatangan. Termasuk si pria rampan berambut agak panjang dan runcing-runcing itu.

Lho, kok dia bisa ikut juga yak? Padahal dia tadi sudah berkata kalau dia tidak mau membantu karena itu bukan urusannya.

Kalau si Serizawa sih menurutku lumrah, karena dia sudah berpendapat, kalau si Genji kalah, maka dia harus menghadapi sekolah Nobou sendiri. Karena itulah dia mau membantu. Tapi si pria tampan itu? Hhh, entahlah.... jadi bingung sendiri dengan film ini.... :S

Pertarungan antara genk Nobou dengan GPS berlangsung sangat seru. Perkelahian yang seolah-olah seperti peperangan antar dua kerajaan, dan memang perlu diacungi jempol untuk action mereka yang tampak seperti berkelahi beneran—juga untuk tukang make up-nya yang sangat canggih jangan lupa.

Saat film itu berlangsung, aku sangat berharap, sangat-sangat berharap, kalau sekolah Suzuran akan jatuh kalah terlebih dahulu. Karena sekolah Noboru memang “dikatakan” sangat kuat sekali. Tapi ternyata eh ternyata, genk Nobou kalah, bahkan kalah telak, dan itu membuatku menelan ludah (gleg!).

Pertanyaannya, sekarang apa fungsi dari “Genk Nobou” itu? Apakah hanya sebagai peran pendamping, yang akan kalah dikemudian hari? Sementara si Genji terus berkibar?

Jawabannya ternyata mudah; karena agar film ini semakin panjang untuk dibuat seri ketiganya. Hal ini dibuktikan oleh perkataan adik dari Bitou Makio yang akan membuat genk Nobou semakin kuat.

Dan sedari awal aku juga sudah mengira-ira kalau genk Nobou akan kalah, atas ucapan dari adik Bitou Makio itu, yang ingin agar memperkuat genknya dulu. Tapi kalau genk Nobou kalah, aku berpikir dari awal, apakah akan menjadikan film itu bagus? Jawabannya jelas, sesuai dengan kata dan hati nuraniku, bahwa jalinan cerita seperti itu cukup; jelek. (maaf banget untuk se-senior Anda dalam membuat film)

Akhir kata, genk GPS, yaitu genk yang diketuai Genji Takiya menang, dan mereka pulang dengan membawa kejayaan.
Ditutup dengan bertarungnya si Genji Takiya melawan Rindaman, yang ternyata, Rindaman tampaknya akan kalah. (Aku nggak tahu gimana maksud sutradaranya kalau si Rindaman akan kalah) Tapi ternyata pertarungan itu tidak dilanjutkan, karena film keburu dipotong, demi efek “penasaran” para penonton, dan menunjukkan kalau film itu “masih” akan berlanjut di seri berikutnya. (Aku penasaran banget gimana cerita film seri ketiganya)

Untuk epilog film, ditutup dengan—mula-mula—warna hitam di layar, dilanjutkan dengan menampilkan sebuah langit berawan, yang juga terdengar suara burung gagak.

Di saat itu, ada seseorang yang berbicara, dan seolah menyimpulkan inti dari film itu. Bunyinya seperti ini: “Tidak ada yang salah dengan Gagak.” “Dibandingkan burung yang terkurung dalam sangkar, Gagak jauh lebih baik.” “Bisa menjadi Gagak sudah cukup bagiku.”

What? Apa-apaan itu? :O

Kesimpulan macam apakah dari sebuah film, yang menurut orang-orang sangat bagus seperti itu, tapi kesimpulannya sangat... sangat-sangat mengenaskan?

Memang sih kalau kalian tidak melihat filmnya langsung, tiga kalimat itu sungguh terlihat baik sekali. Tapi bila kalian melihat jalan ceritanya, kalian pasti akan tahu, penggambaran seperti apa yang dimaksudkan si Sutradaranya sebagai “Gagak” itu. Dia adalah si Genji yang sombong dan angkuh, yang ingin jabatan tertinggi, yang selalu ingin menang, yang selalu ingin mengalahkan segalanya, yang selalu berapi-api.

Mungkin, bila aku boleh mengganti kata-katanya (atau istilahnya “menukar” istilah-istilah itu menjadi sesuai dengan jalan ceritanya) akan jadi seperti ini:

“Tidak ada yang salah dengan menjadi orang yang sombong, angkuh, selalu ingin menang dan berkuasa.” “Dibandingkan dengan orang-orang lemah, yang setiap saat terkurung dalam segala rutinitasnya, menjadi Orang Angkuh itu jauh lebih baik.” “Bisa menjadi orang yang angkuh sudah cukup bagiku.”

GUBRAKKKKKK..... KLONTHUEEEENG... KLOUNTHUEENNNGGGG.... KLONTHUEENGGGGGG......!!!!!! (Jatuh nubruk blek khong guan aku) :D

“Sudah cukup.”

Acungi seribu jempol dah buat Sutradaranya! Seribu jempol kaki tapi. :D

Film sebagus itu, tapi berkesimpulan yang tak lain hanya merusak jiwa manusia.

Mungkin, kalau si Sutradaranya, mengeset lagi dari awal, dan yang berkuasa tetaplah si Serizawa itu, istilah Gagak itu menjadi baik. Tapi, ini, (ngambil tisue dulu ahh... T_T) ...maaf aku tak ingin membicarakannya lebih lanjut. Kejadian ini betul-betul tragis. Filmnya betul-betul membuatku terharu. Huhu... T__T

Akankah film seri ketiganya akan membuatku semakin terharu hingga hangis bombay? Kita lihat saja besok..... :D

Soooooooo.... untuk nilai.... bila diukur dari bintang satu sampai dengan lima.... aku memberikan cukup dengan SATU BINTANG saja.

Maaf ya Crows Zero bagian 2.

Tapi alur ceritamu betul-betul lucu. :D

Masih mending bagian yang pertama, tapi itu juga cukup... emh... tak sanggup aku mengucapkannya.... T__T
Pikir sendiri deh, karena setiap orang mempunyai pendapat sendiri-sendiri.

Tapi kita-kita seperti itu pendapatku tentang film ini.

Mending nonton filmnya Steven Spelberg deh, yuk, buu... ^_^

(eh, bener nggak ya tulisannya itu, hihi)



Serizawa and the gank! Tuh, lihat, pantesan Serizawa kan yang jadi tokoh utamanya? Dan acting Serizawa di film seri kedua ini lumayan lebih bagus daripada yg pertama (nggak terlalu terlihat bloon2 terus). Dan, itu bisa menunjukkan, kalau orang yang pendek itu lebih kuat daripada orang tinggi (ada nilai tertentu kan?) daripada si Genji yang menang, yang sifatnya terlihat angkuh dan linglung. Itu sih pendapatku. Bagaimana dengan pendapatmu? ;)


 [Kesimpulan: Film yang terlalu buruk untuk setting lokasi dan make up yang sangat bagus.]

Review Film "Crows Zero" Bagian 1 (SATU) Disini

Review Film "Crows Zero" Bagian 1 (PERTAMA)


Sebenarnya aku agak takut menulis catatan ini. Di samping aku bukan siapa-siapa, yang tak pantas berbicara di depan umum, dan sudah barang tentu hal yang sekecil apapun bisa berdampak luar biasa di dunia yang begitu luas ini.

Tapi, karena aku terlanjur menonton film ini, dan menulis tentang review ini, dalam keadaan sadar atau pun tidak sadar (mabok kali yak? :D), mau tak mau aku tetap harus mempublishnya.

Dannn.... seperti inilah hasilnya!


Review Film "Crows Zero"

Bak-buk-bak-buk-wuss-wess-dyess-prak-dyess-arghhh....

Iseng-iseng, kali ini aku ingin mencoba mereview film yang kata orang-orang bagus banget. Yeah, judulnya sih memang bagus banget. Crows Zero. Aku sih nggak tahu apa artinya, karena memang aku nggak bisa bahasa Inggris (gubrakk!), tapi setelah lihat filmnya, kayaknya ada di salah satu episeode yang menampilkan sebuah kata—atau ada yang berbicara; Crows. Aku lupa-lupa ingat kalau tak lihat filmnya lagi, haha. :D

Yuk, kita mulai ulas.... :)

Opening film, waw, bagus banget kayak film holliwood, sampai-sampai aku berpikiran ini adalah tontonan yang akan membuat mataku selalu terpacu pada jalan ceritanya. :O

Muka-muka Jepang yang begitu khas dan tampan, membuat film ini menjadi terkesan berkualitas bila dipandang dari sudut mana pun.

Opening film dengan ditampilkannya seseorang yang ditembak, adalah hal yang betul-betul memicu rasa penasaran. Good job bagi Sutradaranya. ;)

Melangkah adegan kedua, wajah-wajah jepang dengan rambut mereka yang khas, yang dipotong runcing-runcing seperti duri, betul-betul membuat mata terlena. Sudut pengambilan gambar, pertemuan di suatu ruang kelas yang ricuh dan murid-murid yang selengekan, langsung memberiku imajinasi bahwa itu adalah sekolah para berandalan. Dan mimik wajah mereka, jangan salah, walau mereka sangat-sangat tampan sekali bila dibandingkan dengan yang membaca review tulisan ini (haha, maap kalau ada yang tersinggung), terlihat “sangar” dan “mafia”. Aku sampai berdecak kagum karena begitu canggihnya si tukang make up bisa mengubah wajah yang begitu tampan itu menjadi terlihat kejam—terlepas dari acting si pemain.

Melangkah semakin ke dalam, film itu ternyata semakin membuat rasa penasaranku bertambah. Penasaran bagaimana jalan ceritanya nanti, dan sibuk menebak-nebak kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi tetap saja aku tak bisa menebaknya, jadi aku memutuskan untuk menontonnya terus sampai selesai, pengen tahu bagaimana ending ceritanya.
Ternyata eh ternyata, di dalam film itu, hampir satu sekolah adalah mafia semua. Yaitu terdiri atas beberapa kelas yang masing-masing mempunyai pimpinan tersendiri. Dan atas pemicu itulah berbagai kelompok dan muris baru mulai berjuang mendapatkan tahta yang paling berkuasa untuk memegang kekuasaan sekolah itu sepenuhnya.

Mendapatkan setelah film, perlahan-lahan keningku menjadi berkerut. Tampaknya, ada yang aneh dengan film itu. Jujur, aku sudah merasakannya, tapi aku mencoba bertahan, dan ingin menonton kelanjutan film itu sampai tuntas. Dimulai dengan intuisi yang berbisik; “Sebenarnya siapa sih tokoh utama film ini? Apakah Genji Takiya, atau penguasa lama sekolah itu yang bernama Serizawa Tamao?”

Rasa penasaran itu bahkan ternyata menguasaiku hingga mencapai ending film. Tapi aku takkan menjelaskannya sekarang, karena keningku semakin berkerut setelah separuh film kutonton.

Seorang laki-laki, yang entah siapa namanya aku sudah lupa, yang kujuluki dia “Si Muka Mesum”, ketua dari kelas entah, menambah kesan humor yang asik. Tapi agak ganjil sewaktu film diputar pada episode sebelumnya; dia kelihatan sangat menyeramkan sebelum dia kujuluki Si Muka Mesum. Seharusnya ia tidak usah menjadi lembek seperti itu jika sebelumnya memang menjadi seorang pemimpin.

Kejanggalan yang kedua, tentang si Genji Takiya saat menangis di depan seorang laki-laki. Idih, nggak nyangka dia bisa menangis “selebay” itu, padahal sebelumnya dia digambarkan oleh sang sutradaranya sebagai seorang laki-laki yang kejam dan kuat—ini juga bertentangan dengan kejadian di ending cerita bila dikilas-balikkan.

Terus, si Serizawa, yang kukira dia adalah tokoh utama dalam film ini. Setelah kutelisik-telisik dari ekspresi mukanya, actingnya, kok dia agak blo’on-blo’on gitu ya? Kadang-kadang jadi blo’on, kadang-kadang jadi garang, yang tetap saja dimataku terlihat blo’on-nya—mungkin gara-gara terpengaruh sewaktu dia beracting jadi orang blo’on. Atau memang begitu dia diciptakan oleh sutradaranya, seri yang bersifat berkuasa namun agak bloon, bloon gitu ya?

Melangkah semakin jauh, muncul seorang wanita di tengah-tengah film. Dan semakin jauh ke belakang, aku selalu bertanya-tanya, sebenarnya apa “fungsi” dari wanita itu? Apakah sebagai titik sentral, yang memang biasa dipakai sutradara-sutradara untuk membuat film, istilahnya sebagai “garam” yang membuat manis daripada film itu?

Ternyata tidak! Wanita itu tak ubahnya hanya sebagai Pemeran Pembantu saja, yang kalaupun dipaksa-paksa menjabat sebagai titik sentral cerita itu, tetap saja tidak masuk, karena tidak ada chemistry yang kuat dan hubungan percintaan yang dalam.

Oh, ya, lupa. Apakah sebelumnya film ini pernah dibuat sebagai Novel berseri dulu, seperti Novel Twiligh Saga? Kalau ya, mungkin reviewku ini keliru. Karena bisa saja, ada sesuatu di belakangnya yang tak kumengerti, yang belum kulihat.

Tapi apakah perlu, seorang penonton sebuah film, harus membaca buku jadinya dulu? Tentu tidak kan? Jadi, so, ini adalah murni bila aku mereview sebagai penonton film itu untuk pertama kalinya.

Lanjut!

Seusai aku geleng-geleng kepala dengan keberadaan wanita itu, aku tetap saja masih sibuk berpikir; sebenarnya siapa sih tokoh utama dari film ini? Sejujurnya ini sangat mengherankan, karena aku—sebagai penonton—masih sibuk mengira-ira, sebenarnya siapa tokoh utamanya. Nggak lucu bukan? Hal ini berbanding terbalik saat aku menonton film buatan America—walau tokoh-tokohnya belum aku kenal; aku pasti akan langsung tahu siapa tokoh utamanya.
Semakin ke belakang, aku juga heran dengan fungsi si Tokio yang sakit itu. Memangnya ada pengaruhnya terhadap kelangsungan film itu yak? Wah-wah-wah, sutradaranya mulai ngawur tuh. Ceritanya menjalar kemana-mana, tapi tidak mempunyai fokus yang jelas. Dan apakah ada gunanya, ketika diketahui bahwa si Tokio itu sembuh? Nggak ada gunanya kan? Kecuali ketika dia tersenyum kepada si Genji itu—tapi tetap entah apa artinya, aku tak tahu.

Apakah film ini yang diandalkan adalah rasa persahabatannya?

Wah, aku bisa ngakak kalau membayangkan kesimpulan itu.

Tapi mungkin masuk akal juga, bila situasi di Jepang adalah carut marut seperti itu, yang konon tidak ada “rasa persaudaraan” sama sekali, bahkan antar tetangga. Film itu mungkin bisa masuk Muri.

Tapi karena aku sama sekali tak tahu bagaimana situasi di Jepang—karena aku memang belum pernah kesana, haha—jadi aku tetap memvonis, jikakalau inti film itu yang diutamakan adalah rasa persahabatannya, aku bisa ngakak terguling-guling. :D

Film dengan rasa persahabatan, masih kalah jauh bok dengan film-film Indonesia! :P

Ada sedikit kejanggalan juga dengan sakit yang diderita para manusia yang berkelahi di sana. Masak dalam sehari saja luka-luka mereka langsung sembuh? Kayak film kartun saja—oh ya lupa, di film kan gak ada tulisan Hari-nya yak? :D
Lalu sewaktu berkelahi, antar dua orang, yang menurutku, dan masih membuatku bingung, yang mana tokoh utama dalam film ini; Genji dan Serizawa. Seharusnya di peperangan terakhir dibuat hujan terus saja. Masak dalam waktu satu detik hujannya langsung berhenti dan rambut juga pakaian mereka jadi bersih dan kering sendiri? Kan nggak lucu? Kayak film sinetron sajah, haha. :D

Dan pada akhirnya, eng-ing-engggg........ ternyata yang menang adalah si Genji yang dalam penilaianku terlalu ambisius, walau memang dia memegang teguh rasa persahabatannya dengan si bodoh yang ditembak punggungnya itu.
Tapi menurutku, rasa persaudaraan si Serizawa lebih masuk dan mengena, daripada rasa persaudaraan si Genji yang ambisius itu. Tapi kenapa kok dimenangkan si Genji dalam pertempuran terakhirnya? Loh, loh, lohhhh.... piye toh sang sutradarane kiiii.... ngakak aku...! :D

Dan sialnya, setelah film itu kuputar dari awal, wawwww..... ternyata si Genji ini dengan sombong dan pongahnya yang menantang si Serizawa, yang menurutku sangat sopan dan bersahabat—tidak terkesan menjadi mafia yang gemar menyiksa teman-temannya. Walau alasan itu karena dia ingin menaklukkan ayahnya. Ckckckck...

Padahal, apa sih salah dari si Serizawa itu? Apakah dia berbuat masalah dengan sekolah itu atau apa? Sejak dia muncul saja kesan dia adalah orang yang sangat bijaksana dan kalem. Kenapa dia bukan jadi tokoh protagonis-nya?

Wue-e-e-e-e.... hebat bener si sutradaranya! :D

Dan, tentu saja masih ada kejanggalan-kejanggalan lain dari film itu.

Salah satunya, darimana mereka mendapatkan keahlian berkelahi itu? Padahal si Genji, di salah satu dialognya menyebutkan; “Aku sudah menguasai tehnik pukulan.”

Nah, kok tidak ditunjukkan bagaimana dia melatihnya? Nah loh, sutradaranya kecolongan kan? :D

Dan kalau pada akhirnya yang dimenangkan adalah si Genji itu, lantas, apa yang dapat diambil ilmu daripada film itu, selain pertengkaran dan perkelahian yang tak jelas jluntrungannya?

Sebut saja temanya adalah “rusaknya akhlak anak muda-anak muda dari Jepang”. Mungkin itu lebih pas.

Tapi, eitsss, tunggu dulu.... film ini masih ada seri keduanya loh. Aku sudah punya filmnya, tapi belum sempat melihatnya.

Dan mungkin saja, reviewku ini semuanya adalah salah, bila aku sudah melihat film seri keduanya. Mungkin segala kejanggalan itu nanti akan dijawab di sana. Soo... jangan berpikiran buruk dulu tentang film ini. Ini hanyalah pendapatku, sewaktu aku menonton filmnya pertama kali. :)

Dan juga jangan menyalahkan aku, karena memang setiap orang itu punya hak untuk mengutarakan pendapatnya.  
Siapa tahu ada pandangan lain yang lebih bermanfaat daripada ini, tapi jujur, itu adalah penilaianku dari film asal jepang: “Crows Zero” itu. Yeah, masih kalah jauh sih bila dibandingkan dengan film asal America. Walau tampang-tampang pemainnya ini memang bisa membuat rok cewek-cewek melayang. Haha. Lihat aja kalau nggak percaya. :D

Soooooooooooooooooooo...... penilaian dari film ini, jika dihitung dari bintang satu sampai dengan lima...... aku hanya memberikan DUA BINTANG saja.

Maaf ya Crows Zero.

Tapi memang begitulah reviewku.

Siapa tahu film seri keduanya lebih baik daripada ini.

Piss! :)

[Menurutku film ini lumayan buruk untuk bisa tayang di Indonesia, karena memang tidak ada manfaatnya sama sekali (kebanyakan film kukira harus mempunyai poin tersendiri biar penontonnnya memperoleh suatu ilham baik, jadi tidak asal buat, kecuali komedi. Indonesia saja sudah rusak dengan adanya demonstrasi anak-anak kawula muda. Apa jadinya kalau ditambah dengan film ini? Haha. Tapi enggak pasti juga denk, kadang ada inti sari tersendiri yang terkandung di dalamnya, dan antara satu orang dg orang lain itu tentu berbeda. Tapi inget, aku bukan type orang yang menyirik film-film laga--dan mungkin karena itu pasti ada yang beranggapan kalau menulis tulisan ini karena hanya aku tidak suka film laga, jangan salah, malah sebaliknya, dari jaman jet lii aku sudah mengenal film laga, walau kadang-kadang bisa lupa. :P). Atau, karena alasan itukah, film ini tidak tayang di Indonesia?]

Tapi kok ada banyak banget film Crows Zero itu ya serinya? Apakah reviewku ini salah?

Jadi bingung sendiri aku. @_@


























Tuh, sangar banget kan tampilan mereka? Tapi pas diteliti lebih lanjut di filmnya, kadang2 ada yang janggal juga dengan acting mereka. (Apakah mereka ingin meniru acting dalam novel pertamaku yang MANTRA itu? Haha. :D

Untuk bagian Part 2, bisa kalian baca Disini

Best Moment 2014 on My Instagram


Hoho. jangan lupa juga Follow Instagram gue Disini, Makasih

Tanda-tanda Gebetan Minta Di Tembak



Secara psikologis memang cewek itu tipe mahkluk yang gak mau digantung. Perlu disadari bahwa cewek itu selalu butuh kepastian. Cewek itu gak suka digantung. Buat apa digantung? Jemuraaan kali. ~Yiihaaaaaaaa

Seorang cewek, biasanya udah merasa digantung kalo udah terlalu lama dideketin sama cowok. Cewek biasanya jadi bertanya-tanya, 'Maksud Qmuh deketin aku apaah?' atau 'Perhatian Qmuh ini maksudnya apaah sich?'. Nah! Dari pertanyaan itu, kita bisa tahu kalau cewek itu ALAY dan si cewek juga butuh kepastian dan pengen buru-buru ditembak sama kamu, ~CieeeeeehhUhhuuuukUhuuuukk

Hal tersebut emang wajar dalam hubungan PDKT yang sudah cukup lama, Pasti selalu ada pihak yang nyindir-nyindir dan berniat ngasih 'kode-kode' kalo dia udah pengen buru-buru ditembak. Misalnya tadi, sindiran kayak 'Maksud perhatian kamu selama ini itu apa?' adalah salah satu sindiran yang menandakan kalau gebetan lo udah gak sabar mau buru-buru ditembak lo. ~Cieeeeeeeeeeeh

Biasanya, kejadian kayak gitu ada tanda-tandanya. Gue sebagai orang kece akan ngasih tau bagemana tanda-tanda atau 'Kode-kode' kalo cewek lo butuh kepastian, berikut tanda-tandanya.


Kita Sebenernya Apa?

Tanda-tanda gebetan udah gak sabar mau ditembak itu adalah ketika dia bilang 'kita sebenernya apa?'. Mampus. Mungkin beberapa dari lo pernah dapet pertanyaan kayak gitu. Kenapa pertanyaan itu bisa muncul? Ya itu tadi, pasti karena dia mau buru-buru ditembak, Cieeeeeeee. Mungkin sulit buat si dia untuk nembak duluan (karena dia cewek), maka keluarlah pertanyaan seperti tadi. ~DoubleCieeeeeeeee. Ketika ditanya gitu, jangan panik, jawablah dengan santai dengan jawaban, 'Kita sebenernya apa? kita yaaa.. manusia, aku cowok, kamu cewek, bapa kamu cowok, bapak aku cowok juga, Mama kamu cewek, eeh mama aku juga cewek, nenek kamu cewek... ~Dan Seterusnya Ampe Buyut-buyutnya di sebutin' dan jangan kaget bila dia jawab, 'Kalo itu, Bocah alay gak pakek sempak juga tau kaammpreeeeeet'.

Enak Ya Punya Pacar

Tanda-tanda dia pengen buru-buru ditembak adalah ketika dia bilang 'enak ya punya pacar'. MATI. Lo harus bener-bener peka pas gebetan udah bilang kayak gitu. Kepekaan ini bisa diasah dengan selalu menganggap kalau semua ucapan dia adalah 'kode'. Misalnya si dia bilang 'ih baju itu bagus' kamu harus langsung sadar kalau itu maksudnya 'beliin gue baju itu dong!'. Misalnya lagi si dia bilang, 'Ih Morgan ganteng bangeeeet' ada 2 kemungkinan kalo dia bilang begitu, Kemungkinan Pertama: Dia mau lo Joged-joged sambil Nyanyi-nyanyi gak karuan ala Boyband. Kemungkinan kedua: Dia mau lo operasi muka. ~Yiiiihaaaaaaaaa ~PukPukPukSabarrEaaaaa

Emang Kamu Siapanya Aku?

Ciri-ciri kalo dia udah gak sabar mau ditembak adalah saat dia bikin lo jealous. Misalnya dia tiba-tiba deket sama orang lain, terus ceritanya lo marah nih sama dia, tapi akhirnya si dia bilang 'kok kamu larang-larang aku? Emang kamu siapanya aku?'. ~JLEBpakeBangeeeeetsss Pertanyaan dari gebetan itu emang terdengar sinis, tapi percayalah itu adalah tanda si gebetan pengen ditembak (Udaaah percaya ajah. biar cepet). Saat PDKT, apa yang diomongin itu maksudnya kebalikannya. Misalnya, kalimat 'hahaha, kamu tuh bukan tipe aku lagi!' padahal artinya 'ya ampun, gue suka banget sama lo! TEMBAK GUE!! TEMBAAAAAAK GUEE BEGOOOK!!'. Misalnya lagi, kalimat, 'hahah aku tuh gak suka nempelin upil di tembok' padahal artinya 'MUAHAHAHA gue suka bangeet nempelin upil gue di tembok!! MUAAHAHAH'

Negatif Thinking

Tanda si dia pengen ditembak adalah waktu dia udah negatif thinking sama apa-apa yang dia lakuin ke lo. tiap mau perhatiin lo, dia langsung negatif thinking 'duh, aku kan bukan siapa-siapa kamu'. Ajieeeeeh, nah kalau uda kayak gitu, ingat lagi kalau setiap perkataannya itu adalah kebalikannya. Maksud dari 'aku bukan siapa-siapa kamu' itu sebenernya adalah 'jadiin gue siapa-siapa lu dong, please! jangan sampe gue acak-acak rumah tetangga lo! *lho'.

Kesimpulan

Kepekaan emang jadi hal utama dalam suatu hubungan PDKT. PDKT itu masa-masa yang ngambang. Masa di mana kamu dan dia ada di tengah-tengah jadian atau gagal jadian. Kalau kamu ingin jadian, tingkatkan kepekaan. Pelajari ciri-ciri gebetan yang pengen cepet-cepet ditembak tadi. Jangan patah cemunguudh eaaaa.. "Semangka", Semangaat Khakaaa!! ~Hooeeeeekssss